Struktur modal adalah kombinasi atau macam – macam modal yang digunakan oleh perusahaan.
Berkaitan dengan modal jangka panjang.
Yaitu modal yang digunakan untuk kegiatan operasional sehari – hari perusahaan.
Teori yang berkaitan dengan struktur modal :
1. Modigliani – Miller ( MM )
2. Trade off theory
3. Pecking order theory
MODIGLIANI – MILLER ( MM )
Tidak melihat adanya hubungan struktur modal dengan nilai perusahaan.
Nilai perusahaan diwakili harga saham.
Berapapun besarnya hutang tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
Kondisi ideal :
- Tidak adanya inflasi
- Tidak adanya pajak
- Tidak adanya biaya transaksi di pasar modal
- Perusahaan dan investor bisa meminjam dan meminjamkan dengan tingkat bunga yang sama
Menunjukkan manfaat penghematan pajak ( diperoleh dari bertambahnya hutang ).
Perusahaan bisa menggunakan 100% hutang untuk membiayai seluruh assetnya.
Incorporating Signaling Effects
Memperhitungkan efek sinyal.
Struktur modal bisa menjadi sinyal yang membuat pelaku pasar melakukan sesuatu.
Sinyalnya berasal dari informasi perusahaan.
Asumsinya ketidakseimbangan informasi.
Manajer mempunyai informasi yang lebih baik dibanding investor.
Manajer akan membuat keputusan yang terbaik bagi investor.
TRADE OFF THEORY
Asumsi ketidakseimbangan informasi.
Ada hubungan antara struktur modal dengan nilai perusahaan.
Ada yg disebut dengan struktur modal yang optimal.
Struktur modal yang optimal adalah kondisi dimana pada struktur modal tersebut akan memberikan nilai perusahaan yang paling tinggi.
Struktur modal yang optimal diperoleh dari :
- Meminimalkan biaya modal ( WACC )
- Memaksimalkan harga saham ( menunjukkan kinerja perusahaan yang baik )
Faktor yang bisa mempengaruhi target struktur modal yang optimal :
1. Rata – rata ratio hutang industri.
2. TIE ratio pada kondisi yang berbeda – beda.
3. Sikap dari pemberi rating.
4. Kapasitas untuk mendapatkan pinjaman.
5. Dampak dari kontrol terhadap keputusan pendanaan.
6. Struktur assetnya.
7. Ekspektasi dari tingkat pajak.
PECKING ORDER THEORY
Asumsi ketidakseimbangan informasi.
Ada relasi struktur modal dengan nilai perusahaan.
Memberikan masukan pada perusahaan saat perusahaan butuh tambahan dana.
Disarankan menggunakan pendanaan internal ( laba ditahan ), berdampak pada kebijakan deviden.
Jika pendanaan internal tidak cukup, menggunakan pendanaan eksternal :
1. Hutang perusahaan di masa yang akan dating pada kondisi yang baik.
2. Saham preferen.
3. saham biasa tidak ada implikasi kewajiban.
Kebijakan Deviden
Kebijakan deviden adalah kebijakan yang berkaitan dengan distribusi laba kepada pemegang saham.
Dikelompokkan menjadi 2 :
1. Cash deviden
2. Non cash deviden :
o Stock deviden
o Stock split
o Stock repurchase
Hal yang berkaitan dengan kebijakan deviden :
1. Tinggi / rendah pembayaran deviden.
2. Stabil / tidak stabil.
3. Berapa kali dalam 1 tahun perusahaan akan membagi deviden?
4. Bagaimana cara perusahaan mengumumkan akan membagi deviden?
3 Teori :
1. Dividend irrelevance investor tidak peduli dengan pembagian deviden baik tinggi / rendah.
2. Bird – in – the – hard investor lebih menyukai pembayaran deviden yang tinggi.
3. Tax preference investor menghendaki pembayaran deviden yang rendah.
DIVIDEND IRRELEVANCE
Investor tidak peduli antara dividen dan keuntungan modal yang dihasilkan.
Investor dapat menciptakan kebijakan deviden mereka sendiri :
- Jika ingin cash, dapat menjual saham.
- Jika tidak ingin cash, dapat memakai deviden untuk membeli saham.
Dikemukakan oleh MM, asumsi yang tidak realistis.
Implikasi : berapapun pembayaran deviden tidak masalah bagi investor.
BIRD – IN – THE – HARD
Investor menghendaki pembayaran deviden yang tinggi, karena menurut invetor deviden lebih rendah resikonya dari pada kemungkinan capital gains yang akan datang.
Pembayaran deviden tinggi, harga saham naik.
Keuntungan : saat ini dapat deviden, yang akan datang dapat capital gains.
Implikasi : deviden tinggi.
TAX PREFERENCE
Pajak lebih tinggi dari capital gains.
Pembayaran deviden tinggi, harga saham naik.
Implikasi : bayar deviden yang rendah.
Clientele Effect
Melihat bahwa investor bisa dikelompokkan sesuai clienteles terhadap kebijakan deviden.
Bisa mengubah kebijakan deviden yang dibuat perusahaan, karena adanya pajak dan biaya transaksi membuat investor tidak pindah perusahaan.
Berkaitan dengan modal jangka panjang.
Yaitu modal yang digunakan untuk kegiatan operasional sehari – hari perusahaan.
Teori yang berkaitan dengan struktur modal :
1. Modigliani – Miller ( MM )
2. Trade off theory
3. Pecking order theory
MODIGLIANI – MILLER ( MM )
Tidak melihat adanya hubungan struktur modal dengan nilai perusahaan.
Nilai perusahaan diwakili harga saham.
Berapapun besarnya hutang tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
Kondisi ideal :
- Tidak adanya inflasi
- Tidak adanya pajak
- Tidak adanya biaya transaksi di pasar modal
- Perusahaan dan investor bisa meminjam dan meminjamkan dengan tingkat bunga yang sama
Menunjukkan manfaat penghematan pajak ( diperoleh dari bertambahnya hutang ).
Perusahaan bisa menggunakan 100% hutang untuk membiayai seluruh assetnya.
Incorporating Signaling Effects
Memperhitungkan efek sinyal.
Struktur modal bisa menjadi sinyal yang membuat pelaku pasar melakukan sesuatu.
Sinyalnya berasal dari informasi perusahaan.
Asumsinya ketidakseimbangan informasi.
Manajer mempunyai informasi yang lebih baik dibanding investor.
Manajer akan membuat keputusan yang terbaik bagi investor.
TRADE OFF THEORY
Asumsi ketidakseimbangan informasi.
Ada hubungan antara struktur modal dengan nilai perusahaan.
Ada yg disebut dengan struktur modal yang optimal.
Struktur modal yang optimal adalah kondisi dimana pada struktur modal tersebut akan memberikan nilai perusahaan yang paling tinggi.
Struktur modal yang optimal diperoleh dari :
- Meminimalkan biaya modal ( WACC )
- Memaksimalkan harga saham ( menunjukkan kinerja perusahaan yang baik )
Faktor yang bisa mempengaruhi target struktur modal yang optimal :
1. Rata – rata ratio hutang industri.
2. TIE ratio pada kondisi yang berbeda – beda.
3. Sikap dari pemberi rating.
4. Kapasitas untuk mendapatkan pinjaman.
5. Dampak dari kontrol terhadap keputusan pendanaan.
6. Struktur assetnya.
7. Ekspektasi dari tingkat pajak.
PECKING ORDER THEORY
Asumsi ketidakseimbangan informasi.
Ada relasi struktur modal dengan nilai perusahaan.
Memberikan masukan pada perusahaan saat perusahaan butuh tambahan dana.
Disarankan menggunakan pendanaan internal ( laba ditahan ), berdampak pada kebijakan deviden.
Jika pendanaan internal tidak cukup, menggunakan pendanaan eksternal :
1. Hutang perusahaan di masa yang akan dating pada kondisi yang baik.
2. Saham preferen.
3. saham biasa tidak ada implikasi kewajiban.
Kebijakan Deviden
Kebijakan deviden adalah kebijakan yang berkaitan dengan distribusi laba kepada pemegang saham.
Dikelompokkan menjadi 2 :
1. Cash deviden
2. Non cash deviden :
o Stock deviden
o Stock split
o Stock repurchase
Hal yang berkaitan dengan kebijakan deviden :
1. Tinggi / rendah pembayaran deviden.
2. Stabil / tidak stabil.
3. Berapa kali dalam 1 tahun perusahaan akan membagi deviden?
4. Bagaimana cara perusahaan mengumumkan akan membagi deviden?
3 Teori :
1. Dividend irrelevance investor tidak peduli dengan pembagian deviden baik tinggi / rendah.
2. Bird – in – the – hard investor lebih menyukai pembayaran deviden yang tinggi.
3. Tax preference investor menghendaki pembayaran deviden yang rendah.
DIVIDEND IRRELEVANCE
Investor tidak peduli antara dividen dan keuntungan modal yang dihasilkan.
Investor dapat menciptakan kebijakan deviden mereka sendiri :
- Jika ingin cash, dapat menjual saham.
- Jika tidak ingin cash, dapat memakai deviden untuk membeli saham.
Dikemukakan oleh MM, asumsi yang tidak realistis.
Implikasi : berapapun pembayaran deviden tidak masalah bagi investor.
BIRD – IN – THE – HARD
Investor menghendaki pembayaran deviden yang tinggi, karena menurut invetor deviden lebih rendah resikonya dari pada kemungkinan capital gains yang akan datang.
Pembayaran deviden tinggi, harga saham naik.
Keuntungan : saat ini dapat deviden, yang akan datang dapat capital gains.
Implikasi : deviden tinggi.
TAX PREFERENCE
Pajak lebih tinggi dari capital gains.
Pembayaran deviden tinggi, harga saham naik.
Implikasi : bayar deviden yang rendah.
Clientele Effect
Melihat bahwa investor bisa dikelompokkan sesuai clienteles terhadap kebijakan deviden.
Bisa mengubah kebijakan deviden yang dibuat perusahaan, karena adanya pajak dan biaya transaksi membuat investor tidak pindah perusahaan.
No comments:
Post a Comment